Cari Artikel

Statistik

Artikel dibaca : 64485
Ada 3 tamu online
TABEA!
Ditulis oleh Redaksi   
Setelah melalui proses berliku dan berbatu, akhirnya perjuangan kami untuk menghadirkan sebuah situs untuk pekarya serta penikmat sastra, seni dan budaya tuntas sudah. Sehingga, dengan hadirnya tampilan situs ini di bentangan mata anda, dimanapun anda berada di belahan bumi ini, segala kelelahan terbayar lunas.

Karya-karya yang ditampilkan di sini adalah bukti dari tidak statisnya Orang Manado di dunia sastra dan seni serta budaya pada konteks yang lebih luas.

Mudah-mudahan dengan hadirnya situs ini, kita semua mendapatkan ruang khusus untuk menyatukan pikiran untuk Manado yang sastrawi atau, paling tidak, menemukan jalan pulang...

Selanjutnya, selamat menikmati...
 
Yang Lain
Esei
Ditulis oleh Denni Pinontoan   
Film Front of The Class, bercerita tentang seorang laki-laki, yang sejak umur 6 tahun menderita tourette syndrome. Sindrom ini adalah salah satu penyakit akibat kelainan pada saraf. Brad Cohen, begitu namanya. Ia, ketika masih di sekolah dasar banyak mengalami diskriminasi, baik dari gurunya, maupun teman-teman sekelasnya. Betapa tidak, selagi sekelas serius belajar, Cohen mengeluarkan suara-suara aneh. Kepalanya juga ikutan bergerak. Suara-suara aneh ditambah dengan gerakan-gerakan leher Cohen, membuat teman-temannya tertawa. Kelas menjadi ribut. Guru yang berada di depan kelas tak merasa senang.

Lanjut...
 
Melihat Tuhan
Cerita
Ditulis oleh Denni Pinontoan   
Senin:
Ini pertama kali aku melihat Yopi, setelah dua minggu dia menghilang. Yang aku dengar dari Yesi dia akhir-akhir ini sering ke Manado.

“Manado? Katanya, ke ibadah persekutuan,” kata Yesi kepadaku Senin minggu lalu.

Tapi, Yopi yang aku lihat hari ini sedikit berbeda dengan yang aku lihat terakhir. Jalannya, tak lagi serampangan. Kaki dilangkahkan sedemikian rupa sehingga tampak sopan. Tangannya juga diayuh lembut. Yopi tampak menjadi seorang pria yang sopan. Padahal, baru sebulan lalu, dia dipergok oleh hansip mencuri ayam milik Om Endi.

Lanjut...
 
Sebuah Puisi Yang Tidak Puitis For Laki-Laki Croatia Itu
Puisi
Ditulis oleh Hesty "OP'S" Elias   
Di Hari Kedua November 2009

Pemai!!!! ta cinta pa ngana!!!
Bukang karna ngana datang jao-jao cuma for mo lia pa qta,
Bukang karna ngana ciong pa qta sama deng di felem-felem,
mar........ nentau leh..!!!

Pendo leh!!! ta suka no pa ngana!!!
Justru karna ngana nda pernah janji muluk en manis-manis
Justru karna ngana pe gila pangge baku nae abis
mar....itu noh...!!!

Kudacuki!!!! ta nda dapa lupa pa ngana!
Ngana so doti sto pa qta kang??
Ato ngana so fui-fui ta pe hati?
mar.....adus...menyerah qta!!!

Luji...!!ta binci pa ngana!
kendati qta nda sempat bilang apa-apa, ngana sontong ni rasa lama noh..
kendati nda penting darimana en kiapa torang bakudapa
mar....ngana dapa leh pa qta!
 
Lahirnya Akon Sang Juruselamat | Naskah Drama 2 Orang
Naskah Teater
Ditulis oleh Witho B. Abadi   
Judul: Lahirnya Akon Sang Juruselamat
Penulis: Witho B. Abadi
Jenis: Naskah Drama yg dimainkan oleh 2 orang.

Tokoh-tokoh:
* Akon
* Suara

Perlengkapan Panggung:
* 1 (satu) buah Meja Kayu
* 1 (satu) buah Kursi Kayu
* 1 (satu) potong lilin  (panjang lilin disesuaikan dengan waktu, agar padam tepat pada waktunya)

(Setting)
Panggung gelap, di tengah ruangan terdapat sebuah meja kayu bundar dan sebuah kursi kayu. di atas meja terdapat sepotong lilin pendek yang tidak menyala.

(Masuk Akon. Berjalan sangat lambat dengan langkah berat, menuju ke arah meja, dan menyalakan lilin yang ada di situ)

Akon:
Biarlah api ini bercahaya, menerangi kegelapan yang senantiasa mencengkeram kebebasan.

(Terdengar suara tawa dari luar panggung. Akon terkejut dan mencari-cari pemilik suara itu)

Suara:
Hahaha... kegelapan tak dapat diterangi. Kegelapan tak dapat diusir. Kegelapan tak dapat disingkirkan.

(Tertawa)

Sebab lilin akan meleleh dan api akan padam. Namun kegelapan tak pernah sirna. Menyerahlah pada kegelapan. Bersujudlah pada kegelapan.

Akon:
(Bingung mencari pemilik suara tersebut)
Siapa kau? Dan mengapa kau membela kegelapan?

Suara:
(Tertawa, kemudian sosok pemilik suara masuk ke panggung)
Aku adalah Freedom. Aku adalah harapan. Aku adalah masa depan.

Akon:
(Histeris)
Tidak!!! Aku tidak percaya!!! Kau bukan Freedom. Kau adalah budak kegelapan. Freedom adalah cahaya terang yang membuka jalan bagi harapan dan masa depan.

Suara:
Aku adalah Freedom. Sujudlah kepadaku!!!

Akon:
Tidak!!! Kau penipu!!! Freedom bukan kegelapan. Freedom adalah cahaya!

Suara:
(Tertawa terbahak-bahak)
Kasihan kau, terbelenggu kesesatan oleh iman. Kau buta karena silau oleh cahaya.

(Suara meninggalkan panggung. Akon duduk di kursi, memandang lilin yang semakin redup, hingga akhirnya mati. Menjelang lilin tersebut mati, Akon mulai panik)

Akon:
Tidak mungkin! Tidak mungkin! Cahaya tidak akan pernah padam!!!

(Lilin mati)

Akon:
(Terpekur Putus asa)
Mengapa? Mengapa?

(Masuk Suara)

Suara:
(Berbicara dengan lembut)
Kau lihatlah sendiri. Saat cahaya padam, yang ada hanyalah kegelapan. Cahaya hanyalah ilusi bagi manusia yang mengingkari takdir. Takluklah pada kegelapan, sebab kegelapan adalah abadi.

Akon:
(Menangis)
Kegelapan... Freedom... Harapan... Masa Depan...

Suara:
Tunduklah pada kegelapan, dan Freedom akan bersamamu selamanya.

Akon:
Kegelapan... Kegelapan... Kegelapan...

(Suara memegang tangan Akon dengan lembut, membimbingnya untuk berdiri, dan menuntunnya keluar panggung)


S E L E S A I
 
Lagi...
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 1 of 24